Tampilkan postingan dengan label Artikel Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Sastra. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Januari 2012

Senandung Tengah Malam

Perlukah Airmata..?

"Ah, tiga setengah tahun aku kenal engkau seorang solehah, berbusana tertutup. Tiga setengah tahun di bangku kuliah. Bukan waktu yg singkat jika selama itu pula memendam cinta namun tidak pernah mengatakannya, hanya sekedar kerlingan, lemparan lelucon baik secara langsung atau via sms. Oh, iya selama itu pula jangan pernah bermimpi aku pernah menjabat tangannya meski sekedar di hari raya, sebuah hari yg tentunya menjadi kesempatan emasku untuk menyentuh telapak tangannya".

"Romantis, teman. Lantas...?".

"Romantis..? Baik kuteruskan.
Dipenghujung waktu yang kurasa tepat setelah tiga setengah tahun di hantui rindu dengannya kuputuskan untuk mengatakan cinta itu. Ya, saya sudah final, dialah yg ingn saya jadikan istri.

Kerjaan..? Saya sudah ada, lagian bukan harta yg saya cari di dunia ini. Saya bisa hdup ketika SMA hanya dengan mengayuh becak dan meraih juara kelas. Saya kayuh becak, meski orangtua pegawai negeri, untuk memuaskan jiwa petualang saya dan juga membeli apa-apa yg tidak di jatahkan orangtua sebut saja satu dua batang rokok.

Lantas apa kata gadis itu setelah saya jelaskan semua..? Tentang keinginan saya dengannya, cita-cita, pengabdian, dll. Airmata menggelanggang dari kedua bola matanya. Dengan terbata dan sulit, dia akhirnya berkata. Kalimat demi kalimat terjalin. Airmatakupun turut berempati bukan hanya sekdar berempati terhadap kalimatnya melainkan juga terhadap nasib diri saya dan dirinya.

Oh, iya. Selama masa tiga setengah tahun tersebut kami sama sadar bahwa kami mencintai satu sama lain. Namun entah kerena virus dari buku Ayat-Ayat Cinta atau memang kami yg terlalu takut sekedar mengucapkan kata cinta dan harapan, yg jelas kami sudah di gilas oleh sang waktu.

Ya, sy seorang pemuda yg tidak pernah takut meski berada di kota manapun tanpa sepeserpun, harus menuggu tiga setengah tahun untuk meminang seorang gadis, sedangkan pemuda yang saya anggap ingusan itu namun alim telah meminang gadis itu dalam waktu kenal tidak lebih dari enam bulan. Ya, sebuah lamaran yg tentu saja diharapkan oleh keluarga gadis yatim itu. Meski saya pikir dia masih perlu belajar, tapi saya akui bhwa pria tersebut memang soleh..

Dengan sisa airmata, gadis berkata bahwa jika seandainya saya berkata lebih awal, dia akan menunggu. Dan jika dia bisa meyakinkan dirinya sendiri bhwa saya ingn berdamping dengannya, dia juga akan menunggu. Sayang yang kulakukan hanya mengirim sinyal lewat tatapan mata dn sapaan basa basi lainnya"..

"Lelah, ya..? Lantas, apa yg kau lakukan....?".

"Apa yg kulakukan...? Pertanyaan bagus.
Ya, luka memang ada. Byangkan aku setia dengan seorang gadis selama tiga setengah tahun meski tidak pacaran dengannya, dan ironisnya aku memang tidak pernah mengatakan cinta itu sendiri.

Mengingat itu ingn rasanya seperti Zainuddin di cerita Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck atau seperti Hamid dalam cerita Dibawah Lindungan Ka'bah, atau bahkan seperti Romeo dengan racunnya..".

"Bodohnya, kau..".

"Ya, meski sempat terkapar beberapa hari namun dengan berita dari desa tentang bantuan pemerintah yg belum tiba-tiba juga, aku kembali teringat dengan melon..

Melon...? Ya, melon. Cita2 yg belum kesampaian untuk membuat petani di desa tertawa senang manakala lahan-lahan sawit itu bisa mereka ambil alih dan diganti dengan melon. Betapa sia-sianya hidup pikir saya jika memutlakan cinta ala Romeo Juliet menjadi fokus kehidupan, sedangkan pria yg berharga adalah pria yang bisa mengabdikan dirinya dengan masyarakat, bangsa dan negara.

Sejak itu kuputuskan untuk mencintai sepenuh hati apa yg lebih besar yakni Merah Putih. Urusan hasrat ingn memliki sebuah rumah tempat bermain keturunan-keturunan dari darah saya, biar "Merah Putih" nanti yg berikan ke saya "dia" pasti bijaksana..

So, pemuda bangsa....? Perlukah airmata....? Tergantung kalian".

coretan iseng lewat tengah malam, mei 2011

Rabu, 04 Januari 2012

Maafkan Wahai Gadis Kota

Perjalanan Pagi di Kotabaru

Gemericik air terdengar. Pegunungan ini pernah sekali dua ukir kenangan di memori masa kecil, lewat aliran sungainya. Sekarang kembali untuk sekedar mengabarkan kepada kota bahwa di sini pernah ada jasa Belanda, dan di sini juga ada nyanyian pribumi, ramah seirama alam.

Wanita berparas ayu itu terkejut kala melihat kedatanganku. Tentu saja, karena dia sedang mandi, dengan bahu terbuka, erotis menantang mentari pagi. Sejenak terpaku, ah, wanita desa di pinggir kali di bawah salah satu lembah pegunungan.

Pipa besi umur ratusan tahun hasil tangan bangsa Belanda kala menjajah Kotabaru, yang seharusnya kugali sejarahnya malah terlupakan. Pertanyaan basa-basi kepada sang gadis terlontar, dan sama sekali tidak punya hubungan dengan pipa. Aha, senyum gadis desa salalu bisa membuat kita semua lupa akan permasalahan dunia.

Kala berbicara, tidak bisa beralih dari sorot matanya, bening. Air sungai jernih seolah adalah hasil pantulan dari keluguan wajahnya. Dan jika bercengkerama, terlihat merona gerakan bibir mungilnya. Serasa enggan, rasanya, meninggalkan sosok yang baru ku kenal ini.

Tidak lama berselang satu dua wanita dan pria paruh baya lewat memperhatikan tingkahku dengan curiga, “ngapain ni anak muda berambut gondrong tak teraratur duduk memperhatikan gadis mandi, jangan-jangan ingin menjadi Jaka Tarub abad modern,” begitu kira-kira suara hati mereka

Namun kawan, jujur kukatakan kalau gadis desa jauh lebih menenangkan jiwa ketimbang gadis-gadis di kota, meski kita akui gadis kota jauh menang dalam hal kemewahan. Tapi ingat, ini urusan perasaan, dan mewah bukan tolak ukur kita untuk berangkat mencari keindahan seni-seni hidup.

Itulah yang kudapatkan kala mencoba membanding-bandingkan aura desa dengan kota. Maafkan wahai gadis kota, jujur, kalau gadis desa memang mempunyai sisi-sisi kelembutan yang sulit kalian miliki, mungin alasannya adalah karena mereka dekat dengan alam.

Mereka yang terbiasa berjalan kaki, mengeringkan padi, bermain di atas pegunungan, akan mempunyai karakter-karakter kewanitaan seperti yang terdapat dalam cerita-cerita percintaan ala zaman Majapahit, lembut, kemayu, jalan menunduk, dan lain-lain.

Bukan, bukan maksud untuk mengembalikan status wanita seperti zaman baheula, dimana mereka kebanyakan hanya bertugas untuk menjadi wadah penyambung keturunan. Wanita memang sudah harus terus berkarya seperti yang banyak diperlihatkan diperkotaan. Dimana gegap-gempitanya telah mewarnai stasiun-stasiun televisi kita, hingga pelosok desa bisa melihatnya. Berjalan dengan gemerlap, baik di atas catwalk, atau diberbagai panggung bertemankan beragam pila-piala penghargaan.

Semua itu adalah pencapaian-pencapaian sangat membanggakan dari cerita kaum feminim di kota, mengharunkan nama Indonesia lewat ajang Miss Universe, seperti yang kita akrab dengar beberapa tahun terakhir ini. Pencapaian, dimana kemolekan gadis dipertontonkan dengan bikini, sebuah rancangan pakaian yang jelas bukan berangkat dari nilai-nilai eksotisme budaya Indonesia. Sehingga lambat laun dengan segala macam pencapaian peresteasi wanita di ajang Nasional dan Internasional, beberapa sisinya justru membuat berbagai media masa seolah telah turut berperan aktif dalam mengerosikan nilai-nilai asli budaya kita hingga ke pelosok pedesaaan.

Mari sejenak kita kembali ke masa lampau. Chut Nyak Dien, seorang pejuang wanita asal Aceh, berhasil membuat bangsa besar asal luar seperti Belanda, pontang-panting dalam mempertahankan tanah jajahannya. Hanya berselendang kain putih dan penutup kepala seperti kerudung, wanita ini berhasil mencatat namanya dalam sejarah kebanggaan dan bukan untuk masanya saja, tapi sampai sekarang.

Seyogyanya, bangsa Indonesia dewasa ini kembali merevisi arti perjunagan seorang wanita dalam pembangunan bangsa. Tentu, kita tidak akan membuat mereka berotot dengan cara memanggul senjata lantas mengirimkannya ke daerah-daerah konflik. Hanya sebaiknya, kita sedari dini menghentikkan segala macam kegiatan-kegiatan yang malah membuat kaum wanita Indonesia manja, dan hadir hanya sebagai objek bagi dunia untuk dinikmati sisi kecantikan sensualnya.

Jangan sampai kita kelak akan melihat para remaja putri Indonesia menjadi barang langka, hanya bisa ditemukan kalau kita pergi ke Mall-mall, pojok taman, sampul-sampul majalah, diberbagai merek kosmetik terkenal, video-video klip lagu cinta picisan. Para pemuda kita sedari dulu merindukan sosok wanita yang bukan saja bisa menjadi pasangan yang indah dalam mengarungi biduk cinta sebuah rumah tangga, lebih dari itu, mereka berharap para wanita bisa menjadi sosok Ibu bagi gerak perjuangan untuk selulurh pribumi berjalan ke arah kibaran bangga Sang Merah Putih.

Jumat, 30 Desember 2011

Bertanya di Kota Seribu Sungai Untuk Awal Tahun


Ada Tanya Pribumi


Banjarmasin, kota seribu sungai, tempat dimana saya kuliah, jurusan keguruan. Ada pernak-pernik dalam masa-masa itu, membuat diri mengerti perjalanan sejarah yang bernama korupsi. Ya, dari dunia kuliah dan kerja, saya lebih mengenal perajalanannya, sepak terjangnya, dan bagaimana suksesnya, ternyata, dunia pendidikan, organsisasi, serta  birkorasi kepemerintahan membuat korupsi terus…terus ada sebagai salah satu budaya kita.

Banjarmasin, kota seribu sungai, aliran warna coklatnya kala musim hujan penuh sampah, seolah tertawa sinis ke arah kami anak-anak pribumi. Meski titel sarjana berseliweran, toh, katanya hidup keduniaan terus terperosok. Korupsi bukannya berkurang meski sarjana keguruan, sang pendidik, terus bertambah. Karena, sang sungai juga tahu bahwa para pendidik tidak lepas dari tanggungjawab membudayanya racun mematikan bagi keberlangsungan negara ini.

Ambil saja salah satu contoh sederhana, dari dunia kampus. Bukan rahasia, beberapa bahkan hampir semua universitas mempunyai cerita penjualan ijazah atau skripsi. Ada yang terang-terangan, adapula dengan pendekatan dosen secara personal berbisik ke telinga mahasiswi cantik menggiurkan. Belum lagi, dunia organisasi kemahasiswaan, jangan dikata. Lihat saja kelapangan, betapa lihainya mereka membuat proposal kegiatan, sedang hasil laporan pertanggunjawabannya beda dengan proses sebenarnya dari kegiatan. Maka, kasus markup, sudah di ajarkan, sobat, dari dunia pendidikan.

Tambahnya, jika kita ingin melihat sisi lain dunia pendidikan ketika harus bersinggungan dengan pihak pemerintah dalam bentuk finansial. Oh, kalau sudah masuk ke cerita itu, maka selamat tinggal kejujuran. Tanya saja kepada sungai Banjarmasin, dia akan berbisik lewat lembaran tisu usang berasal dari ruangan gubernuran, terus di buang ke selokan dan akhirnya sampai ke perut sungai. Iya, di dalam salah satu ruangan di gubernuran sana, katanya, sudah biasa seorang mahasiswa apabila mencairkan dana yang besar akan memberikan pelicin terlebih dahulu kepada oknum. Nah, lihat, sungai pun, meski berwarna coklat tapi sudah tahu dan akrab dengan oknum.

Lantas dimana (dimana)? Dunia kerja saja mendukung praktik-praktik demikian. Pada apa dan pada siapa sebenarnya sekarang ini kita menaruh kepercayaan?! Sungai sendiri, terlihat lelah menjawab tanya, ribuan tanya, anak-anak jalanan, “kami ini korban?.”

Hari semakin tinggi, kopi sudah habis setengah, bentangan rokok menanti bara sampai ke daun tembakau penghabisan. Tetangga riuh rendah, membahas riang rencana akhir tahun, kembang api warna apa dan ledakannya yang seperti apa. Juga ada, terlihat melintas dari depan jendela rumah, anak wanita berpakaian merah putih dengan sepeda ontel, nampaknya sudah terlambat ke sekolah. Gamang...melihat campur aduknya kenyataan di kota tercinta ini. Hanya satu, masih terngiang dalam harapan, hidup terus berlanjut kak, kata teman wanita kuliah dulu, pegang semua kebenaran dalam perbuatan, selalu ada jalan buat ketulusan. Amin, ragu-ragu kata itu terucap.

tepat akhir tahun 2011, Banjarmasin.

Sabtu, 24 Desember 2011

Wartawan Bukan Hartawan



Antara Harta dan Moral Wartawan


Jika ada pekerjaan yang paling dibutuhkan oleh publik sekarang ini, maka sepertinya adalah wartawan. Sudah biasa, kita setiap pagi menanti berita-berita para antek-antek jurnalis ini mengabarkan berbagai hal, lewat media cetak juga elektronik. Cerita suka atau berbagai kasus hitam sekarang sudah seperti sinetron populer, ceritanya tambah tegang namun endingnya tak pernah ketemu.

Dari itu sebagian besar masyarakat merasa kurang lengkap hari mereka jika di pagi belum sempat membaca, meski hanya judul, halaman pertama dari koran. Belum sempurna berangkat kerja tanpa tahu berita terhangat dari sebuah stasiun televisi terlebih dahulu. Maka sudah menjadi kebutuhan ternyata mengetahui berita dari media masa dalam keseharian.

Mulia memang pekerjaan mereka, para wartawan, manakala dengan beritanya, nelayan misalnya jadi tahu bahwa ada bantuan lunak dari sebuah bank tahun depan. Atau seorang guru, setelah sekian lama gajinya disunat akhirnya bisa kembali normal setelah jeritannya kepada penguasa diberitakan.

Itu salah satu cerita. Cerita lainnya sangat bertolak belakang. Tahukah anda kalau para instansi pemerintah sering mengaku kesal dengan para awak media ini? Kedatangan wartawan berkungjung ke instansi mereka bisa saja menjadi salah satu kegiatan pemborosan kas negara. Pasalnya, instansi ini entah kenapa meresa wajib untuk menyerahkan amplop kepada wartawan seusai wawancara atau liputan.

Maka anda bayangkan saja jika dalam sehari ada sepuluh wartawan berkunjung ke kantor, maka berapa banyak nominal keluar di waktu itu. Lalu bagaiman seandaianya kejadian sama berulang selama sebulan?! Tentu bukan saja petinggi instansi bersangkutan akan meradang dan dongkol setengah mati, namun juga anggaran bulanan harus terpangkas tanpa bisa diaudit, karena keluarnya amplop sudah di pesan agar semua orang berpura tida tahu.

Sedangkan wartawan sendiri, terutama mereka para peliput bidang politik kepemerintahan tahu benar akan nimatnya pekerjaan mencari berita-berita penuh miring. Kalau sudah akrab dengan pejabat, semua bisa di atur. Tinggal si wartawan pintar-pintar menyimpan kartu truf, kasus skandal pejabat, misalnya.

Bukan rahasia lagi, ketika pejabat berbisik minta tolong, katanya, agar berita itu jangan di terbitkan, cukup berita ini saja. Sembari berkata demikian tangannya trampil menyiapkan amplop ala pesulap Dedy Corbuzier. Slrup, amplop masuk kantong, berita di simpan wartawan dalam brangkas bersandi.

Bukan rahasia pula, kalau hanya dengan gajih sebatas cukup makan dan transport, wartawan mampu membeli rumah, mobil, dan perkakas mewah lainnya dalam waktu singkat. Maka bisa jadi itu adalah kumpulan dari puing-puing keringat rakyar lewat tangan politisi. Ironis, di mana rakyat justru menanti suara kebenaran, wartawan justru bermain di indahnya dunia kemunafikan para pejabat.


Jadi siapa sebenarnya wartawan ini?! Maka bagi saya pribadi, wartawan itu sebenarnya bukan mereka yang tiap hari mencari berita dan menyampaikannya ke publik, memilih berita yang aman disampaikan dan menjual sebagian berita kepada pemerintah. Mereka yang seperti itu, bagi saya tidak lebih dari sekedar manusia sakit mental, perlu dikasihani sesegera mungkin. Dan bangsa jelas tidak butuh mereka.

Bagi saya dan rakyat, wartawan adalah mereka yang mau berpanas hujan mencari kebenaran, mengabarkan kabar gembira untuk publik bahwa hak mereka masih ada di kas pemerintah bisa di ambil dalam waktu dekat.

Wartawan adalah dia, berjalan tanpa keluh menapaki siang, kadang tersesat di gelap malam. Tidur di rumah-rumah pribumi, berteman dengan alam, bercengkerama bersama nelayan juga petani. Lantas menuliskan semua itu untuk petinggi bangsa, untuk petinggi dunia bahwa kita Indonesia dari dulu dan sekarang tetap menyimpan kearifan lokal. Dimana gotong royong, tembang lir ilir, paris barantai, kambanglah bungo, jali-jali, sampai lagu yamko rambe yamko masih dan terus ada di keseharian anak-anak desa.

Bahwa kita Indonesia, ada potensi tersimpan di setiap jengkal pulau-pulaunya. Para politisi urakan, para pemimpin korup, mereka semua bukan anak bangsa, mereka hanyalah sekedar kerak yang numpang makan di tanah pusaka ini. Dan, tugas wartawan adalah dengan beritanya mengabarkan kalau Indonesia sudah selayaknya di pimpin seorang nelayan atau petani, karena itu jati diri bangsa. Bukan dipimpin barisan kerak berdasi itu.

Meski dengan mengabarkan itu para wartawan harus berdarah-darah. Semua terus di suarakan sampai nanti semua pejabat di Indonesia tahu persis bahwa kita akan menjadi bangsa besar apabila kelautan dan potensi darat menjadi milik pribumi dan di jalankan dengan gotong royong. Sedang tidak ada lagi kebanggaan menjadi presiden, karena toh presiden sendiri tidak lebih dari seorang petani tulen dan kebetulan mendapat amanat berupa cinta dari rakyat. Sungguh, wartawan adalah dia yang beritanya berjalan kearah sana.

Semoga kedepan, isu sumbang bernyanyi cerita lelahnya para pejabat tiap hari menyiapkan amplop bagi wartawan, tidak ada lagi dalam dunia jurnalistik bangsa kita. Hilang sudah para pencuri sendal ketakutan separuh mati melihat sorotan kamera, sedang dalam memori card kamere itu banyak tersimpan file skandal petinggi hanya tidak pernah terbit. Dan semoga, wartawan kedepan hanya bisa di wakilkan dengan beberapa kata: kekasih rakyat. Amin.

Banjarmasn, akhir 2011

Minggu, 18 Desember 2011

Jiwa Yang Merdeka Ada Pada Mereka

Seorang anak sedang bertelanjang bulat di pembatas sungai belakang pasar Antasari Banjarmasn


Anak-Anak “Asing” Di Sudut Kota Banjarmasin

Tawa mereka keras bergema. Jujur menjalani hidup, apa adanya. Bahkan berlarian dengan bertelanjang tubuh bukan asalan untuk menyimpan keceriaan. Anak-anak itu, entah siapa nama mereka. Kelelahan fisik saya, membuat lupa sekedar mematri identitas diri mereka dalam memori. Bukan sengaja, hanya memang canda mereka kala itu merupakan obat bagi jiwa yang tengah lelah.

Waktu itu hari Minggu, saya tetap harus bekerja untuk menyampaikan berita-berita dari desa bagi sebuah media masa di kota. Dengan roda dua, kadang harus terantuk bebatuan jalan rusak, kadang pula berbasah-basahan di guyur hujan sebab lalai membawa mantel anti air.

Dan di hari itu kejenuhan akan bising kendaraan kota kembali menerpa, kali ini dia membuahkan migraine pada diri saya. Maka seumpama orang kelaparan mencari makanan, seperti itulah diri saya berusaha secepat mungkin membebaskan diri di tengah kemacetan kota sehabis dari desa.

Sayang usaha saya itu hanya terbentur di kenyataan bahwa lampu merah masih banyak di depan, berdekatan pula dengan pos polisi. Timbang dompet saya nantinya di geledah ketika berpura melihat lampu merah seolah hijau, maka saya putuskan untuk segera memarkir kendaraan di Pasar Antasari Banjarmasin. Seingat saya di salah satu sudut pasar ada tempat sunyi menghadap sungai Martapura.

Benarlah, siring belakang pasar yang menghadap sungai Martapura itu sedang dalam suasana bersahabat dengan jiwa. Hanya ada terlihat beberapa anak-anak bermain di salah satu kapal tongkang tua tidak terpakai lagi.

Angin berhembus, suara tawa anak-anak, dan sesekali deru mesin kelotok membelah sungai membuat saya segera menghela nafas lega. “Ah, di tengah sumpeknya urusan dunia pasar, ternyata ada juga tempa tentram seperti ini,”ujar hati saya sendiri. Bergegas, takut di hantam deadline, saya mengeluarkan laptop untuk mengetik.


Ketika satu berita selesai di ketik dan lanjut ke berita lain, maka selesai juga anak-anak bermain –main di sungai. Lantas mereka melihat ke arah saya, riang tersenyum seolah-olah saya adalah sebuah permainan. Ya, akhirnya mereka perlahan tapi pasti satu-persatu mendekatkan diri kepada saya, tanpa ragu. Meski sadar, kala itu pasti mimik wajah ini lagi sangat kusut kelelahan, yang bukan saja karena pekerjaan tapi juga karena sudah sebulanan saya hanya menatap harumnya buah durian di pinggir jalan pulang dan berangkat kerja tanpa mampu membelinya.


“lagi beapa pian? Itu laptop, lo?” “Hei jangan di pegang laptonya, tangan ikam kan basah.” “Tau ni, sudah tau basah masih haja mengikuti anggit urang.” “Hahaha, itu nah peler ikam kelihatan! Kada supan, kah?.” Mereka dengan ributnya saling bertanya dan berkomentar di sekeliling saya. Tanpa mempedulikan saya yang tengah ketakutan terhadap waktu, sebentar lagi deadline.

Namun kawan, jujur, ketika saya terpaksa harus menjawab beberapa pertanyaan mereka maka lambat laun setelah berdialog saya mendapatkan semacam kegembiraan, entah dari mana. Tawa dan keluguan serta rasa ingin tahu mereka membuat hati ini sejenak kembali berputar ke pesona dunia anak-anak, bermain. Ya, akhirnya saya putuskan sejenak bercanda dan bermain dengan mereka.


Sehabis main  di sungai, mereka menemani saya
Dan, astaga, beberapa dari mereka adalah anak jalanan sudah putus sekolah, baru saja sehabis dari kerja mengupas bawang merah di pasar. Melihat riang di wajah mereka selintas sentakan di hati. “Ah, betapa selama ini saya kurang bersukur”. Bagaimana tidak, mereka bukanlah anak-anak kaya. Bermain pun tidak di gedung futsal atau bilik warnet. Mereka ada di sini, di sudut kota, bermain bersama kotornya sungai di Banjarmasin.

Bagi mereka anak-anak jalanan, kesedihan hanya seperti sebuah mimpi, cepat datang cepat pula perginya tanpa perlu di besar-besarkan, tanpa perlu di kenang-kenang. Dari raut wajah, kelelahan itu jelas ada. Tidak seperti anak-anak manja yang sejahtera, berkulit bersih dan berwajah rupawan. Namun jangan salah, jiwa merekalah untuk zaman sekarang berhasil menggambarkan kepada kita akan dunia anak-anak yang sesungguhnya.

Mereka memang ada di jalan, dan terkadang beberapa di antara mereka harus berurusan dengan aparat kala malam-malam meminta-minta di lampu merah. Kengototan mereka kala menjulurkan tangan kotor bisa saja membuat jengkel setengah mati seorang perempuan pesolek di dalam mobil ber-AC. Ya, sampah pendidikan hanya salah satu julukan buat mereka. Tapi, kawan, jujur saya akui…dunia mereka jauh dari kemunafikan.

Setuju atau tidak, berdekatan dengan mereka saya menemukan kebahgiaan. Pendidikan mereka boleh terbelakang, moral mereka boleh jadi cercaan utama bagi umat-umat sok suci. Hanya, satu yang saya tau, hidup mereka mengalir bersama alam. Mereka tidak berusaha memanipulasi hidup mereka dengan mengenakan salah satu topeng kehidupan. Mereka adalah mereka, sekumpulan manusia yang memanfaatkan benar sisi kearifan lokal. Di tengah gencarnya serangan budaya dari bangsa luar, mereka asing membangun kebersamaan sambil berenang di salah satu sungai sudut kota Banjarmasin.

Minggu, 11 Desember 2011

Prostitusi, Ceritamu di Banjarmasin

Berkunjung ke Prostitusi Tua di Banjarmasin 

“Mas, ayu ngamar,” ujar seorang wanita umur 40 tahunan. Wajahnya terlihat lelah. Lemak-lemak tubuhnya di pamer dengan mesra. 

Ajakan itu diberikan pada saya di sebuah penginapan daerah Banjarmasin. Penginapan tersebut meski menyediakan beberapa kamar kosong untuk di inapi, namun hampir semua kamarnya sudah berpenghuni. Nah, penghuni-penghuninya sendiri adalah para wanita tunasusila. 

Mereka sudah puluhan tahun disana. Bukan penduduk lokal. Menjajakan tubuh mulai pukul 09.00 pagi sampai dinihari ketika mereka sudah merasa lelah. Sayang rata-rata umur mereka di atas 35 tahunan. Sehingga mungkin itu yang membuat saya masih bisa bertahan dengan iman seadanya. Meski tarif mereka murah, rata-rata Rp50 ribu sekali pakai. 

Penduduk sekitar, para tukang ojek, lelaki dewasa yang rumah tangganya amburadul, sering terlihat memasuki kamar-kamar di penginapan berumur puluhah tahun itu. Lokasinya yang berada di pinggir jalan raya membuat para penikmat sex instan tadi terfasilitasi. 

Tapi kawan jangan salah. Karena pada hari-hari tertentu, misalnya malam minggu, ada juga anak-anak pria belasan tahun terlihat keluar dari salah satu kamar. Anak-anak itu terlihat malu-malu manakala penulis menatap tajam bola mata mereka. 

Sepertinya anak-anak usia produktif ini sudah tidak tahan lagi untuk bisa menyalurkan hasrat sexualnya. Mereka bisanya datang bersama beberapa teman. Masuk kedalam penginapan dengan kendaraan sementara kaca helm tetap tertutup. Ya, itu memang sudah diperkirakan. Dengan tarif Rp50 ribu, ditambah lokasinya berada di pinggir jalan raya, maka tentu anak-anak ini mudah sekali untuk mencoba “rasa” salah satu wanita paruh baya di kamar. Ironisnya, wanita-wanita itu sungguh pantas buat jadi ibunya. 

Dan seperti biasa, ketika ditanya alasan kenapa para wanita ini di umur yang lanjut malah menjadi pekerja sex, maka jawabannya sudah bisa kita duga yakni masalah biaya hidup. Oh,alangkah indahnya jawaban tersebut. Ditengah banyaknya orang-orang pendatang sukses di tanah Banjarmasin ini, mereka malah terlena, mulai dari menjejakkan kakinya pertama kali dari tanah seberang hingga sekarang berjualan tubuh adalah perkerjaan yang tak tergantikan. 

Siapa yang patut disalahkan dari keadaan tersebut? Karena dengannya anak-anak usia belia dengan mudah mengecap sex di luar nikah. Apakah kita harus menudingkan telunjuk kemarahan kepada pemerintah Banjarmasin? 

Sepertinya beralasan. Bukan apa-apa. Faktanya, penginapan tersebut sudah menjadi rahasia umum. Anak kecil sampai kakek-kakek tahu di luar kepala apa-apa yang di kerjakan oleh orang-orang di penginapan. Maka rasanya tidak mungkin jika pemerintah tidak mengatahuitentang keberadaan prostitusi ini. 

Puluhan tahun berdiri tegar. Laksana sebuah dewa. Tertawa melihat perkembangan kota di sela-sela nafas lelah para anak jalanan, menghisap lem castol di salah satu sudut penginapan. Tertawa merasakan jerit meraka yang ingin bertobat ke arah jalan kebaikan, namun kita dan penguasa sama-sama acuh. Maka, seperti itu kira-kira nasibmu, kotaku.

Jumat, 04 Maret 2011

JATUH CINTA DENGAN SRI MULYANI





JATUH CINTA DENGAN SRI MULYANI


Alpagatani, pertengahan 2010

Aku bukanlah seorang ahli politik apalagi ahli dalam bidang keuangan seperti Ibu Sri Mulyani yang mengambil salah satu jenjang pendidikan di negri Paman Sam. Negara Idonesia yang begini besar dan luas lagi kaya akan morat-marit menjadi serbuan penjajahan di bidang ekonomi jika saja yang menjadi mentri keuangan adalah paman saya yang menjabat sebagai lurah kampung berijazah hanya sekolah dasar. Dan kalaupun yang menjadi menteri keuangan adalah seorang mahasiswa jurusan FKIP seperti saya, wah, seperti kata Bang Mizwar: “apalah kata dunia”.

Cerita ini bermula dari perkenalan saya yang pertama dengan Ibu Sri Mulyani pada sebuah wawancara yang diadakan eksklusif oleh sebuah stasiun TV (beliau berada dalam TV dan saya menontonnya sambil berbaring), dimana pada kali pertama itu juga saya di buat jatuh cinta. Tentu saja namanya adalah jatuh cinta pada pandangan pertama. Walau saya sangat mengharapkan agar kelak bisa bersanding dengan seorang wanita solehah yang berjiblab juga berakhlak mulia (agar anak kami kelak mempunyai contoh dalam bersikap dan bertingkah laku karena terus terang saja meski saya sudah bekerja sabagai guru honorer tapi kelakuan masih seperti anak-anak yang mencintai kebebasan berperilaku) namun tidak bisa dipungkiri kalau kecerdasan Ibu Sri Mulyani yang tidak dibalut pada sebuah jilbab anggun telah membuat hati ini jatuh. Yah, yang namanya cinta tidak mempunyai batasana dimana mau menjatuhkannya.

Ketika sedang asiknya menyimak ulasan-ulasan tentang kasus yang sedang ditanganinya, Bank Century, dan juga ulasan-ulasan tentang beberapa program keuangan yang sedang dijalankan saya dengan tegas mengambil kesimpulan bahwa sangatlah tidak berkacanya diri ini jika melakukan demo negatif terhadap kinerja beliau. Wah, Indonesia ini sangat luas teman. Jangankan untuk membuat sejahtera Indonesia seluruhnya membuat sejahtera keluarga kita saja rasanya sangat sulit. Sehingga sangatlah tidak lucunya ketika saya mendemo menetri keuangan dimana saya sendiri buta sama sekali untuk yang namanya sistem persaingan ekonomi global.

Begitu sangat sulitnya sistem perekonomian yang sedang di hadapi oleh bangsa yang kaya ini. Semua itu disebabkan oleh kekayaan bangsa kita sendiri yang amatlah melimpah ruah sehingga membuat para penjajah berdatangan. Bukan saja dari luar negri tapi juga dari dalam negri kita sendiri. Lihatlah betapa banyak para ahli politik yang menjadikan dirinya ahli hanya dalam watu singkat sedangkan Nabi Muhammd yang notabene sudah di akui oleh dunia kejeniusannya harus mengasah kecerdasan politiknya selama bertahun-tahun. Nah, pada bangsa kita banyak para ahli yang menjadi ahli hanya dengan bermodal pasang poto di jalanan sebagai calon legislatif misalnya lalu tebar senyum dan janji dan pada akhirnya terpilih di hari pencontrengan. Para ahli dadakan in sangat di sesalkan oleh Ibu Sri Mulayani dapat dilihat dari diskusi yang dilakukan oleh sejumlah anggota dewan kepada beliau. Banyak terlihat para wakil rakyat yang mengajukan pertanyaan dimana justru pertanyaan tersebut membuka kedoknya sendiri bahwa dia sama sekali buta dalam bidang keuangan. Orang yang buta dalam bidang keuangan bagaimana bisa mengambil kesimpulan bahwa tindakan yang sudah dilakukan oleh seorang ahli keuangan adalah salah?! Bagaimana bisa seorang buta mengatakan bahwa warna daun kelapa yang muda adalah putih sedang di sendiri malah tidak tau warna putih itu bagaimana. Celakanya orang buta tadi dengan bicaranya yang memotivasi berhasil menggondol masa untuk sama-sama turun kejalan sambil membawa spanduk besar yang bertuliskan: warna daun kelapa adalah putih.

Minggu, 27 Februari 2011

Sebuah Catatan Penting Bahwa Kita Pasti Mati



Sebuah Catatan Penting
Bahwa Kita Pasti Mati

Alpagatani
Banjarmasin, April 2010


Kelelakianku terpantik manakala kumelihat wajah yang lembut rupawan lagi memancarkan aura keibuan. Pelurunya-pun melesat dengan ganas tepat pada sasaran yang bernama hasrat ingin bercengkrama sambil mata dan leherku tidak akan penah lepas maupun berpaling dari bibir mungilnya jika tiba gilirannya berbicara...itu jika aku dan dia duduk bersisian. Hasrat ingin bercengkrama itu juga tidak akan membuat mataku, hanya mataku, untuk bulat-bulat menikmati seluruh kecantikan yang ada pada wajahnya...itu jika kami duduk berhadapan.
Mengapa ada wanita secantik dia ujarku dalam hati. Ada perasaan tidak percaya dan adapula perasaan perih yang mendalam. Sungguh sebuah kecantikan yang menggila dimana seluruh raut dan bentuk wajahnya mampu membuat beribu-ribu mata memandang terkesima tidak tua maupun muda, tidak konglomerat maupun tukang sapu jalanan yang notabene mungkin sudah tidak ada lagi harapan untuk memiliki istri seperti wanita itu. Namun kali ini tukang sapu jalanan itupun seperti aku yang dengan nanar menatap penuh dengan harapan.
Namun kenapa ada terselip perasaan perih. Itu di karenakan hasrat ingin bercengkrama adalah hanya tinggal sebatas angan. Mahasiswa seperti aku yang punya wajah pas-pasan serta kantong yang juga sangat pas-pasan adalah sebuah kekurangajaran besar-besaran jika berani menaruh harapan untuk bisa bermain bersamanya di taman bunga sambil menyanyikan lagu Rhoma yang berjudul: Cuma Kamu.
Bukan berarti aku takut untuk patah hati. Untuk patah hati jelas akan terjadi jika aku dengan muka setebal tembok cina mengatakan pada si juwita itu akan keinginan hatiku. Itu pasti, dan bukan aku saja yang mengalami hal tersebut. Banyak pemuda tampan rupawan yang juga harus menelan pil kekalahan setelah ternyata si juwita tadi adalah kekasih dari seorang pengusaha batubara kelas kakap, eh, kelas hiu malah.
Apa yang ingin aku katakan disini adalah bahwa keterpesonaan akan keindahan adalah sebuah hal sifatrnya sangat manusiawi. Keinginan untuk memiliki pesona itu juga adalah manusiawi bahkan jikalaupun keinginan untuk memiliki pesona itu hanya untuk diri sendiri tanpa ingin berbagi dengan orang lain. Semua itu bukan masalah.
Yang menjadi masalah justru terletak pada pesona itu sendiri. Apabila pesona itu mampu membawa pada kebaikan dan kemajuan maka itu adalah pesona yang bisa dan mampu menjaga agar dirinya tidaklah menjadi penyebab kepada terjadinya kesalah pahaman tugas. Apa itu kesalah pahaman tugas...?
Kesalah pahaman tugas timbul dari terbuainya hati terhadap sebuah potensi untuk dinikmati kehadirannya. Banyak para juwita yang terbuai pada potensi kecantikannya sedang mereka lupa kalau kecantikan tersebut adalah sebuah tugas. Kecantikan yang berupa pesona merupakan potensi yang di harapkan mampu memberi ketenangan pada dunia dengan cara menggunakan kecantikan tersebut sebagai alat juang. Yang di maksudkan disini bukan dengan cara memerkannya kepada khalayak dan selanjutnya menikmati tatapan-tatapan kagum dari kaum Adam. Tertawa senang manakala tukang parkir kelindas truk hanya gara-gara memandang wajahnya.
Banyak para intelektual yang terjebak pada kecerdasannya sendiri. Mereka rela meluangkan waktu untuk tampil di televisi sekedar berdebat masalah kasus-kasus yang sebenarnya tidak butuh perdebatan melainkan butuh aksi nyata. Berbagai macan teori keluar dengan segala macam penjabarannya yang membuat para penonton terkesima terhadap kata-kata yang mereka lontarkan. Padahal jika boleh dirangkum acara-acara perdebatan yang biasanya memakan waktu selama satu jam ternyata hanya terdiri dari beberapa kalimat saja. Itulah orang-orang cerdas banyak terjebak untuk menikmati potensinya dimana dengan kepandainnya mereka mampu mengolah satu kalimat menjadi beberapa paragraf indah yang tidak bosan di dengar.
Pesona dan potensi yang lupa bahwa dianya adalah sebuah isarat tugas maka yang akan timbul kelak persis seperti ketika aku melihat kecantikan si juwita tadi. Para penulis, misalnya, yang menikmati potensi kepenulisannya itu maka dia akan membuat berbagai macam cerita untuk membuat hatinya senang lagi bangga. Para pembaca akan terpesona menikmati alur demi alur yang dia buat seindah untaian permata namun disisi lain para pembaca itu juga akan menemukan bahwa banyak waktunya terbuang percuma hanya karena terbuai oleh cerita tadi.
Kita semua pada dasarnya menjadikan potensi kita sebagai pesona jarang di temukan orang-orang yang yang menjadikan potensinya sebagai alat untuk mencari hakikat kebajikan "pesona" itu sendiri. “Pesona” yang justru telah memberikan kita potensi untuk menemukanNya. Semoga (doa terkhusus untuk jiwa saya sendiri)

Minggu, 20 Februari 2011

Buat Rafi’ah



Buat Rafi’ah
Alpagatani
Dinihari di Banjarmasin, 07 April 2010

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Perjalanan dinihari kali ini menyisakan kabut pada relung perasaan sayang dan cinta. Logika coba berdebat dengan hati tentang apa yang kurasa. Beberapa kesimpulan tentu terlahir dan inilah yang akan dipaparkan melalui goresan ini.
Goresan ini meski kukhususkan buatmu namun pintu terbuka bagi yang lain untuk sekedar membuka cakrawala kebebasan beropini berdasar. Mari sejenak bercengkrama melalui dunia yang menamakan dirinya sastra meski mungkin percakapan ini sifatnya terjalin satu arah bagi para pembaca yang jiwanya bukan menjadi target sasaran anak panah kalimat.
Sebuah organisasi kemahasiswaan adalah ajang untuk melatih diri kedepannya sehingga bisa diharapakan melalui pengalaman-penglaman yang ada nantinya mampu melahirkan pemimpin-pemimpin bangsa yang berkualitas. Manakala sebuah organisasi kemahsiswaan tersisipi oleh apa yang disebut “politik praktis jauh dari norma” maka jangan salahkan jika kampus tersebut akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang selalu mencampuradukkan antara pengabdian dan bisnis dalam hubungan sebab akibat. Parahnya jika hukum pengabdian dan bisnis mempunyai teori tertentu yaitu teori hukum ekonomi.
Tidak ada salahnya jika sebuah kegiatan kemahasiswaan yang pada awalnya ditujukan untuk pengabdian ternyata membawa banyak manfa’at, finansial misalnya, dan itu bukan merupakan upah atau imbalan melainkan sekedar gambaran bahwa ilmu memang bisa mengangkat derajat seseorang. Yang menjadi masalah adalah manakala kegiatan tersebut memang ditujukan untuk meningkatkan strata ekonomi kita maka jatuhlah harga seorang mahasiswa beserta ilmu dalam perbandingan terbalik dengan strata ekonomi tadi.
Wanita adalah makhluk terhormat sama halnya dengan pria. Mereka mempunyai hak yang sama dalam organisasi yakni hak untuk mengabdi bukan hak untuk memimpin tampuk (ajaran Islam mengatur hal ini dengan sangat bijaksana). Mengapa demikian? Hal tersebut disebabkan pada praktek pelaksanaan tanggungjawab. Seorang wanita jika harus berpergian selama lebih dari tiga hari maka dia harus ditemani oleh muhrimnya. Masih banyak lagi alasan lain jika harus dipaparkan namun bukan kapasitas saya menjelaskan hal itu panjang lebar.
Sisi praktek pelaksanaan tanggungjawab itu yang banyak di abaikan oleh orang-orang yang berkecimpung dalam dunia organisasi. Belum pernah saya menemukan sebuah kegiatan yang melibatkan perawan muda dalam ranah kepanitiaan meminta ijin kepada orangtua perawan tadi manakala dalam pelaksanaan tanggungjawab nantinya akan memasuki ranah-ranah kekhawatiran dan kecemasan dari si orang tua. Ini adalah pemakaian tenaga yang tidak dewasa lagi egois. Kegelisahan dan kekhawatiran merupakan sebuah kondisi mental yang sangat mahal harganya jika di tebus dalam jumlah nominal meski itu mencapai angka enam digit lebih dalam rupiah.
Orangtua mana yang tidak cemas manakala mengetahui anak perawannya berada pada sebuah tempat, bekerja dalam sebuah tanggungjawab keorganisasian atau kepanitiaan yang judul kegiatannya saja tidak mereka mengerti apalagi sistem kerjanya. Yang mereka tahu bahwa anak mereka “sangat dibutuhkan dedikasinya untuk melaksanakan tugas” tanpa ada jaminan bahwa anak mereka akan selamat baik dari sisi norma agama maupun pandangan adat. Betapa berdosanya kegiatan tersebut manakala sepulangnya dari melaksanakan tugas perawan mereka berkata: “Mama, pada waktu kegiatan saya mendapat seorang kekasih. Kami sudah menjalin ikrar sehidup semati dan itu disaksikan oleh dan hanya taburan bintang dan senyum rembulan disebuah pojok alam terbuka setengah remang”.
Tidak bisa di abaikan jika terkadang cara kerja seorang wanita lebih baik di banding pria utamanya dalam bidang yang memerlukan bakat kejelian berbalut kesabaran dan keterampilan. Merupakan anugrah dan seni dengan adanya perbedaan antara pria dan wanita. Memperlakukannya tentulah juga harus bermodal dengan seni. Memperkerjakan seorang wanita haruslah melihat bahwasanya tanggungjawab yang di bebankan tidak melanggar keindahan anugrah dan seni itu sendiri. Hendaklah anda menempatkannya sesuai apa yang keindahan itu sendiri inginkan. Jika itu yang anda lakukan maka kalian bisa melihat bahwa prduktifitas bersinar dengan cemerlang di tempat masing-masing antara pria dan wanita bersama sebuah jalinan dimana kehormatan menjadi sebuah fokus yang terangkat.
     Jangan biarkan seorang perawan di malam dingin berkeliaran mencari kertas pada sebuah warung yang hampir tutup dalam sebuah organisasi/kegiatan yang terdiri dari beberapa otot keras kaum pria. Sementara bulan di atas sana merdu bersinar oleh cahaya matahari. Bukankah bulan dan matahari tidak pernah bertemu? Dan ternyata itu bukan penghalang untuk saling berkerjasama dalam sebuah organisasi dimana visinya adalah untuk menyinari bumi… :-)

Rabu, 16 Februari 2011

3 Oleh-oleh Sepulang Perjalanan Menyusuri Kabupaten Banjar

3 Oleh-oleh Sepulang Perjalanan Menyusuri
Kabupaten Banjar

Alpagatani
Banjarmasin, 04 Januari 2010


Sebuah cerita kuno tentang kebijaksanaan yang bergairah dan secangkir kopi adalah sahabat yang sangat baik di kala sendiri. Kesepian tidak berarti kejemuan pembentuk garis bibir manyun manakala kesepian itu sendiri ternyata berhasil mengukir pahatan-pahatan hikmah pada dinding-dinding hati kita. Kesepian juga bukan merupakan penyebab bagi hampanya jiwa, bagi angka mati untuk bertindak dan bagi pembunuh semangat hidup. Namun kesepian justru adalah kesenangan untuk bermain dalam fantasi dimana telahir sensasi untuk melakukan aksi. Disana kita bebas merdeka dalam mengolah suasana dan rona ke arah kegairahan dengan catatan tidak memberi khayal muluk tanpa arah pada tangan-tangan kesepian itu sendiri...

Menatap hamparan hijau rerumputan rawa, padang bernas pepadian yang bertemu dengan horizon jingga ulasan warna senja lembayung, deburan pantai oleh jilat gelombang dengan juluran lidah angin bercampur garam, atau pada kedalaman lembah-lembah yang mungkin pada salah satu guanya terdapat pasangan-mesra rusa remaja sedang memadu kasih. Menatap pemandangan-pemandangan tersebut di atas, sungguh, adalah jauh lebih indah pada kedalaman jiwa ketimbang menatap leher jenjang putih dan mulus-lembut para bidadari dunia yang berseliweran dijalan-jalan kota. Menikmati mereka pula terkadang dan hampir selalu mampu dengan baik untuk merangsang naluri jantan kelelakian yang hangat dan membara daripada dengan dua mata nanar menikmati belahan dada ketat terbalut gaun mini milik para bidadari dunia yang berhamburan tanpa kendali di mal-mal pusat perbelanjaan...

Berperahu di sungai sendiri menelusuri saksi-saksi sejarah bisu penyimpan kenangan pada perjuangan ikhlas tanpa putus asa Pangeran Antasari ternyata lebih mampu memberi semangat yang jauh lebih ampuh daripada berjalan bersama menuju sebuah seminar motivasi berkarcis seharga puluhan ribu dalam sebuah gedung setengah penuh oleh mahasiswi-mahasiswi cantik. Semangat tidak bisa dibeli....sebuah kesadaran yang terlambat untuk di catat, sesungguhnya. Semangat juga bisa datang dalam kesepian, kawan..! Kesepian terkendali di kebijaksanaan yang berteman secangkir kopi perenung-an dan seiris sanggar tafakkur adalah sebuah seminar motivasi sarat kualitas yang karcisnya bukanlah nominal puluhan ribu atau ratusan ribu melainkan cukup hanya dengan menghilangkan keakuan. Berapakah harga keakuan itu..? Murah, semurah kita kita meletakkan sujud yang ikhlas dalam setiap perbuatan... Murah memang, namun tak bisa di beli dengan isi dunia karena dianya adalah Cahaya Hati yang justru bukan dilahirkan dari rahim dunia...